Postingan

Menampilkan postingan dengan label eyd

Dari EYD ke EBI

Terbitnya Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia kurang diperhatian serius oleh masyarakat. Padahal, permen tersebut menggugurkan permen sebelumnya, yaitu Permen Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009, yang juga telah menggugurkan peraturan sebelumnya. Permen terbaru pada bagian tentang menghilangkan kelompok kata yang Disempurnakan sehingga dulu ejaan kita lebih dikenal dengan singkatan EYD. Penghilangan kelompok kata yang Disempurnakan , konon, sebab makna kelompok kata itu mengisyaratkan bahwa ejaan kita belum sempurna. Penghilangan kelompok kata tersebut juga menyebabkan istilah ejaan kita sekarang lebih dianjurkan untuk diakronimkan menjadi EBI. Mengapa masyarakat kurang memperhatikan aturan terkait ejaan ini? Pertama, peraturan tentang ejaan memang kurang mendapat sambutan atau respons sebab yang terkait dengan ejaan biasanya kalangan akademik atau mereka yang bergelut dalam tulis-menulis. ...

pemakaian titik dua (:)

Pada kesempatan ini kita bahas tentang pemakaian titik dua (:) di dalam sebuah kalimat. Acuan yang saya pakai adalah aturan di dalam  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (selanjutnya disebut EYD). Namun, fokus saya pada pemakaian tanda baca itu di dalam kalimat. Menurut EYD , tanda titik dua dipakai pada kalimat lengkap atau sempurna yang diikuti pemerian. Pemerian dapat dimaknai sebagai perincian atau penjelasan. Tampak, dari pernyataan itu bahwa titik dua (:) dipakai dengan dua syarat, yaitu (1) bagian depan titik dua tersebut haruslah sebuah kalimat yang sempurna yang salah satu bagiannya memerlukan suatu pemerian, dan (2) bagian yang mengikuti tanda titik dua itu haruslah sebuah pemerian. Pernyataan syarat (1) di atas mengindikasikan bahwa bagian sebelum tanda titik dua itu sangat potensial menjadi kalimat sehingga titik duanya bisa diganti dengan tanda titik (.).

Penulisan Akronim

Akronim dan singkatan memiliki kesamaan sekaligus perbedaan. Kesamaan akronim dan singkatan adalah bahwa keduanya merupakan pemendekan dari bentukan kata yang panjang.Adapun perbedaannya adalah bahwa singkatan secara umum diucapkan per huruf, seperti dieja, sebaliknya akronim dibaca sebagai sebuah kata. Pada kesempatan ini, akan kita bahas bagaimana menuliskan akronim.

mengapa koma di sana

Saat saya sedang menyiapkan powerpoint untuk pelajaran di kelas saya, seorang rekan guru terdengar berkata, "Selalu...selalu saja, sudah diberi tahu jangan koma di sana, eh, tetap saja koma di sana!" "Siapa, Pak?" tanya saya. "Anak-anak," jawabnya. "Banyak anak-anak yang koma, Pak?" "Bukan...bukan anak-anak yang koma. Anak-anak selalu salah meletakkan tanda baca koma." "O, begitu. Memang, kalimatnya bagaimana?" "Saya bilang pakailah tanda koma sesuai dengan intonasi baca. Bukan begitu, Pak?" tanya Pak Guru itu. Saya tersenyum. "Lho, jadi pernyataan saya salah, Pak?" Seolah dia tahu maksud senyum saya. "Yang saya ketahui, Pak, di ejaan kita, tidak ada penjelasan pemakaian tanda baca koma harus mengikuti intonasi baca kita dalam kalimat," terang saya. "Nah, nah, guruku dulu salah dong." "Kalau guru tidak salah, Pak. Biasanya, mereka hanya khilaf." "Ya, ya, say...

Kapankah sebuah kata dipetik?

Seorang murid saya bertanya kepada saya, "Kak, kapankah sebuah kata dapat diberi tanda petik?". Dalam EYD, diatur tentang penggunaan tanda petik ("..."). Tanda baca yang berada di atas selain tanda petik adalah tanda petik tunggal ('...') dan apostrof ('). Sesuai dengan judul di atas, pada tulisan ini saya akan fokus dulu pada penjelasan tentang kapan atau bilamana sebuah kata dapat diberi tanda petik. dalam ejaan kita, tanda petik ("...")--biasanya dikenal juga dengan tanda kutip--dipakai dalam tiga kondisi. Pertama, dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Contoh: Padal 36 UUD 1945 menyatakan, "bahasa negara adalah bahasa Indonesia." Ibu berkata, "Paman berangkat besok pagi." Kedua, dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Contoh: Sajak "Pahlawanku" terdapat pada halaman 5 buku itu. Saya sedang membaca ...

bentuk -nya yang bikin bingung

Pernah dengan istilah klitika? Istilah linguistik alias ilmu bahasa. Klitika adalah bentuk pendek dari kata ganti. Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa kata ganti, seperti aku, kamu, engkau, dan ia. Kata aku merupakan kata ganti orang kesatu, yang berarti orang yang berbicara. Kata kamu dan engkau merupakan kata ganti orang kedua, yang berarti diajak berbicara, sedangkan kata ia merupakan kata ganti orang ketiga alias yang dibicarakan. Klitika dari aku adalah -ku atau ku-, seperti dalam bentuk BUKUKU atau KUBACA (aku baca). Klitika dari kamu adalah -mu, seperti dalam bentuk RUMAHMU, UANGMU Klitika dari engkau adalah kau- seperti dalam bentuk KAUBACA, KAUBELI Perlu diperhatikan bahwa menurut EYD, penulisannya harus disambung, tidak boleh dipisah. Jadi, jika ditulis kau baca, penulisan itu salah. Klitika dari ia adalah -nya, seperti dalam bentuk BUKUNYA, MOBILNYA. Masalah kemudian muncul berkaitan dengan -nya ini. Pernah Anda berkenalan dengan seseorang, lalu orang itu bertanya kepad...

Penulisan Akronim

Sekarang kita bahas bagaimana menuliskan akronim yang sesuai dengan aturan Ejaan Yang Disempurnakan. Sebagaimana telah kita ketahui, sebenarnya akronim merupakan singkatan yang dibaca sebagai sebuah kata. Jadi, dalam akronim dapat dipastikan terdapat bunyi vokal, sebab jika tanpa bunyi vokal, tidak mungkin dapat dibaca sebagai sebuah kata utuh. Akronim ditulis dengan huruf kapital semua jika yang dijadikan akronim merupakan huruf-huruf awal kata yang dijadikan akronim. Misalnya: KONI (Komite olahraga Nasional Indonesia) PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) SIM (Surat Izin Mengemudi) Akronim ditulis dengan huruf awal kapital jika akronim tersebut merupakan nama organisasi, nama lembaga, atau mengacu kepada nama diri. Akronim tersebut bukan berasal dari huruf-huruf awal kata pembentuknya. Misalnya: Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) Unibraw (Universitas Brawijaya) Akronim ditulis dengan huruf kecil semua jika bukan merupakan nama dan bu...

Penulisan Singkatan

Menurut Ejaan yang Disempurnakan (EYD), singkatan adalah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Bentuk yang mirip dengan singkatan adalah akronim yang oleh EYD didefiniskan sebagai singkatan dari dua kata atau lebih yang diperlakukan sebagai sebuah kata. Secara sederhana, untuk membedakan singkatan dengn akronim adalah dari cara membacanya. Umumnya, sebuah singkatan dibaca satu per satu huruf, tidak sekaligus, sedangkan akronim dibaca sekaligus, dianggap sebuah kata utuh. Aturan pemakaian singkatan sebagai berikut Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti tanda titik di belakang tiap-tiap singkatan itu. Contoh: A.H. Nasution M.B.A. M.Hum. Bpk. Sdr. Kol. Singkatan yang berupa gabungan huruf diikuti dengan tanda titik. Contoh: jml.(jumlah) kpd.(kepada) tgl.(tanggal) yg.(yang) dl.(dalam) No.(nomor) Singkatan gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diakhiri titik. Contoh: dll. (dan lain-lain) dsb. (dan sebagainya) Yth. (yang terhormat) Singk...