Postingan

Menampilkan postingan dengan label kalimat baku

Ciri-Ciri Kalimat Tidak Efektif atau Tidak Baku

Sekurang-kurangnya ada dua pendapat kaitan antara kalimat efektif dan kalimat baku. Pertama, kalimat efektif disamakan dengan kalimat baku. Kedua, kalimat efektif adalah kalimat baku, tetapi tanpa melibatkan ejaan. Kalimat efektif secara umum berkaitan dengan struktur kalimat yang harus benar atau sesuai kaidah yang berlaku pada bahasa tersebut. Umumnya pendekatan yang dipakai untuk melihat kalimat efektif adalah pendekatan yang bersifat struktural dengan menekankan kelengkapan unsur-unsur inti kalimat.

Konjungsi Bisa Menyebabkan Ketidakbakuan Kalimat

Salah satu penyebab ketidakbakuan kalimat adalah penggunaan kata hubung (konjungsi) yang tidak tepat. Banyak di antara kita yang memandang kata hubung sekadar pada maknanya, padahal kata hubung pun memiliki fungsi. Dari fungsi itu pulalah, para linguis menyebutkan adanya beberapa ejenis kata hubung. Jenis-jenis kata hubung itu, misalnya, kata hubung antarklausa dan kata hubung antarkalimat. Adanya beberapa jenis kata hubung berdasarkan fungsinya itu maka pemakaiannya kata hubung harus tepat benar agar kalimat yang dihasilkan menjadi kalimat yang baku.

Kapan luluhnya?

Peluluhan atau nasalisasi merupakan salah satu proses morfologis. Proses morfologis adalah proses-proses yang bersangkut paut dengan pembentukan sebuah kata. Dalam pembentukan sebuah kata, bahan dasarnya adalah satuan bentuk terkecil yang memiliki makna, biasanya dikenal dengan sebutan morfem. Ada dua jenis morfem, yaitu morfem bebas (berupa kata dasar) dan morfem terikat (berupa imbuham). Nah, penggabungan antara morfem terikat (sebuah imbuhan) dengan kata dasar pada kasus tertentu akan menyebabkan terjadonya proses peluluhan. Imbuhan yang terkena proses ini adalah me- (meN-, meng-) dan pe- (peN-, peng-). Imbuhan lain tidak terkena proses ini. Kata dasar yang terkena proses ini adalah kata dasar yang diawali /k/, /t/, /s/, dan /p/. Jadi, me- dilekatkan pada kirim menjadi mengirim, /k/ diubah menjadi /ng/ me- dilekatkan pada tulis menjadi menulis, /t/ diubah menjadi /n/ me- dilekatkan pada sapu menjadi menyapu, /s/ diubah menjadi /ny/ me- dilekatkan pada putar menjadi...

Setelah ada subjek di belakang!

Biasanya dalam kalimat bahasa Indonesia, subjek terletak di depan predikat. Seperti dalam kalimmat: Ibu pergi ke pasar . Kakak mengiris SMS tadi . Dua kalimat di atas masing-masing bersubjek ibu dan kakak . Keduanya terletak di depan predikat kalimat masing-masing. Kalimat yang subjekya mendahului predikat dikenal dengan istilah kalimat normal. Selain kalimat normal, dikenal juga kalimat inversi, yaitu kalimat yang predikatnya mendahului subjek. Dalam bahasa Indonesia, kata kerja ada merupakan kata kerja yang ketika menjadi predikat selalu mendahului subjek. Contoh: Ada tamu di rumahku. Ada pertemuan besok . Nah, subjek kedua kalimat tersebut masing-masing tamu dan p ertemuan tersebut . Itulah kalimat inversi. Kalimat inversi sering dalam bentuk psif. Contoh: Di lemari tergantung pakaian . Di sana diadakan pameran . Subjeknya masing-masing pakaian dan pameran . Selamat membaca!

Kalimat efektif: Contoh soal model SIMAK UI

Berikut ini adalah simulasi soal Seleksi Masuk Universitas Indonesia, yakni untuk soal kalimat efektif. Kalimat-kalimat di bawah ini merupakan kalimat tidak efektif, KECUALI... (A) Buku tebal karangan doktor terkenal itu sudah dibaca oleh saya dua hari lalu. (B) Jika kamu tidak datang, aku akan segera pulang sebab di sini aku sendiri saja.* (C) Persahabatan itu bagai kepompong yang mampu mengubah sesuatu menjadi indah. (D) Pembangunan waduk itu untuk menyejahterakan para petani di wilayah tersebut. (E) Sebab tidak sopan, kami pun menegur mereka di tempat biasa mereka berkumpul. JAWABAN: B Pada (A) terdapat kesalahan pemasifan, seharusnya bukan sudah dibaca oleh saya sebab ada kata ganti saya (kata ganti orang ke-1), yang tepat adalah sudah saya baca . Pada (C) kalimatnya tidak memiliki predikat, bagian bagai…indah merupakan keterangan. Pada (D) kaimat juga tidak berpredikat, bagian untuk…tersebut merupakan keterangan tujuan. Pada (E) terjadi kesalahan pelesapan sehingga yang tidak...

Kalimat Baku: Struktur Baku

Tahun-tahun terakhir ini dalam soal ujian masuk ke PTN untuk mata pelajaran bahasa Indonesia selalu saja ada pertanyaan tentang kalimat baku. Menganalasis kebakuan sebuah kalimat tidaklah mudah sebab ada beberapa persyaratan yang harus dilihat. Salah satunya adalah melihat kebakuan dari sisi struktur. Demikian juga dalam kenyataannya di soal, kebakuan dari sisi struktur sangat dominan. Namun, jangan khawatir sebab analisis kebakuan struktur justru yang paling konkret dan mudah diurainya. Baku secara struktur berarti kalimat itu memiliki induk kalimat (klausa bebas) yang memiliki subjek dan predikat (unsur inti kalimat). Unsur yang sering mengecoh kebakuan adalah Keterangan, yang dicirikan dengan diawali preposisi dan konjungsi subordinatif. Ini daftar preposisi: di, ke, dari, dalam, pada, oleh, bagi, seperti, untuk.... Ini daftar konjungsi subordinatif: yang, sebab, karena, sehingga, agar, supaya, walaupun, ketika, saat, yang,...(dan beberapa lagi) INGAT! Setiap kata atau frasa yang di...

Jika ada saya atau kamu, jangan pakai di-!

Kita tahu bahwa bentuk kalimat itu macam-macam. Sejak di sekolah dasar kita sudah diajari tentang kalimat aktif dan kalimat pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan pekerjaan, sedangkan kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai atau menjadi sasaran suatu pekerjaan. Tidak semua kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif. Syarat sebuah kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif adalah berpredikat kata kerja transitif (berawalan me- dan diikuti objek). Misalnya: (1) Kakak mengetik naskah cerpen. Kalimat ini berpredikat MENGETIK yang merupakan kata kerja transitif sebab berawalan me- dan diikuti objek (naskah cerpen). Jadi, kalimat (1) bisa dipasifkan. (2) Adik bermain sepak bola. Kalimat (2) berpredikat BERMAIN yang bukan kata kerja transitif, awalannya ber- dan tidak SEPAK BOLA dalam kalimat itu berfungsi sebagai pelengkap. jadi, kalimat (2) tidak dapat dipasifkan.. Kalimat (1) di atas jika dipasifkan tinggal diubah objek menjadi subjek, kemudian...

GARA-GARA SUBJEK MELESAP, MANDOR MENCURI

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai sebuah kebakuan kalimat adalah pelesapan unsur pada anak kalimat. Jika kalimat terdiri atas dua klausa atau lebih, kalimat tersebut biasanya dikenal dengan sebutan kalimat majemuk. Dalam kalimat majemuk, dua buah klausa tadi bisa saja memiliki unsur yang sama. Misalnya kalimat: Sebab adik sakit, adik tidak pergi ke sekolah. Pada kalimat tersebut, klausa 1 adalah SEBAB ADIK SAKIT, sedangkan klausa 2 adalah ADIK TIDAK PERGI KE SEKOLAH. Kedua klausa tersebut memiliki subjek yang sama, yaitu ADIK. Sebab itu, pada kalimat tersebut harus terjadi pelesapan subjek, yakni penghilangan subjek (pada anak kalimat). Dengan demikian, kalimat itu menjadi "Sebab sakit, adik tidak pergi ke sekolah" Hanya saja soal lesap-melesapkan ini, sering orang tanpa sadar melakukan pelesapan yang tidak atau kurang tepat. Misalnya: Sebab sering mencuri, mandor memecat pegawai tersebut. Siapakah yang sering mencuri dalam kalimat tersebut? Coba perhatikan...

Soal Preposisi dalam Pemberitahuan

Ada berbagai jenis kalimat sesuai dengan keperluan kita masing-masing. Dari sisi tujuannya, misalnya, dapatlah kita sebut adanya kalimat pemberitahuan atau kalimat yang bersifat pengumuman. Kalimat-kalimat seperti ini dalam bahasa Indonesia sering didahului oleh sebuah preposisi. Tepatkah keberadaan preposisi di awal sebuah kalimat pemberitahuan? Preposisi adalah kata bantu atau kata tugas yang menandai bagian tertentu dalam kalimat sebagai fungsi keterangan. jadi, setiap frase preposisional sudah dapat dipastikan, fungsinya dalam kalimat adalah Keterangan. rumah=kata benda di rumah=frase preposisional=Keterangan Bandung=kata benda dari Bandung=frasa preposisional=Keterangan Perhatikan sebuah kalimat pengumuman di bawah ini! Bagi yang terlambat harap melapor ke sekretariat. bagi yang terlambat=frasa preposisional=Keterangan (kata bagi adalah preposisi) harap melapor=frasa verbal=predikat ke sekretariat=frasa preposisional=keterangan (kata ke adalah preposisi) Jadi, kalimat pengumuman d...

TAKSA, AMBIGU, DAN AMBIVALENSI

Bagi mereka yang menggeluti soal-soal tes bahasa Indonesia untuk Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, sejak masuk proyek perintis, sipenmaru, UMPTN, SPMB, dan SNMPTN, ada tiga kata yang mempunyai maksud yang sama, yaitu TAKSA, AMBIGU, dan AMBIVALENSI. Ketiga kata itu mengacu pada makna 'konstruksi yang memiliki makna lebih dari satu'. Namun, perlu dicatat satuan yang terjadi paling keci pada level frasa, bukan kata. Untuk kata terjadi yang namanya polisemi. Contoh frasa yang ambigu: Lukisan Affandi; maknanya (1) lukisan diri Affandi; (2) lukisan yang dibuat Affandi; dan (3) lukisan milik Affandi. Pembicaraan tentang taksa, ambigu, dan ambivalensi termasuk ke dalam materi KALIMAT BAKU. Contoh lain: ayah membeli tiga karung beras; tiga karung beras dapat bermakna (1) beras sebanyak tiga karung (2) tiga buah karung beras. Keambiguan bisa terjadi sebab pemakaian kata peggolong, seperti buah, orang, karung, atau kata benda yang difungsikan bagai kata pnggolong. Kalimat, "Bakar ...

Kalimat baku/Kalimat standar cont. 2

Yang juga perlu diperhatikan dalam penyusunan kalimat baku adalah bentuk kalimat pasif. Dalam bahasa Indonesia, dikenal dua bentuk pasif. Bentuk pertama adalah kalimat pasif yang proses pembentukannya dengan mengubah bentuk verba aktif berawalan me- menjadi verba berawalan di-, yang diikuti juga dengan perubahan posisi subjek kalimatnya. Contoh: Ayah sedang membaca koran. (Kalimat aktif transitif) Pemasifan dapat dilakukan dengan cara: 1. ubah posisi objek menjadi subjek, dan sebaliknya sehingga kalimat menjadi Koran sedang membaca ayah. -->proses belum selesai, dilanjutkan dengan 2. ubah verba berawalan me- menjadi berawalan di-: membaca-->dibaca; kalimat menjadi Koran sedang dibaca ayah. (Kata depan oleh dalam kalimat di atas mana suka) Namun, aturan tersebut tidak berlaku apabila subjek kalimat aktifnya berupa kata ganti orang kesatu atau orang kedua baik tunggal maupun jamak. Contoh kata ganti orang kesatu: aku, saya, kita, dan kami; contoh orang kedua: kamu, engkau...

kalimat baku/kalimat standar cont. 1

syarat kedua, kebakuan kalimat dilihat dari kelengakapan kalimat. Sebuah kalimat lengkap adalah kalimat yang memenuhi kehadiran subjek dan predikat secara bersamaan. Itu syarat kelengkapan kalimat yang pertama, syarat lainnya adalah kehadiran objek mutlak ada jika kalimat tersebut berpredikat verba transitif. Berikut contoh-contoh kalimat tidak baku. Dalam pertemuan tingkat tinggi itu membicarakan perkembangan terbaru keamanan di Timut Tengah. Ketidakbakuan kalimat tersebut disebabkan subjek kalimat tidak hadir. Unsur yang ada adalah K=Dalam pertemuan tingkat tinggi itu; P=membicarakan; O=perkembangan terbaru keamanan di Timur Tengah. Peristiwa yang terjadi di kampungku itu sebab penduduk lalai menjaga keamanan. Kalimat di atas juga tidak baku, penyebabnya adalah P tidak hadir. Unsur yang ada pada kalimat tersebut adalah S=peristiwa yang terjadi di kampungku itu; K=sebab penduduk lalai menjaga keamanan. Artikel yang ditulisnya membicarakan tentang kenakalan remaja. Kalimat di atas juga...

kalimat baku/kalimat standar

Kalimat baku adalah kalimat standar. Dalam ragam lisan, kalimat baku dipakai dalam situasi formal, seperti dalam proses pengajaran dan pidato resmi pejabat negara. Adapun dalam ragam tulis, kalimat baku dipakai dalam tulisan ilmiah atau bentuk lainnya yang mensyaratkan keteraturan kalimat yang ketat. Kalimat baku tidaklah sesulit yang dibayangkan sebab kalimat baku bukanlah konstruksi kalimat yang panjang-panjang, tetapi dapat berupa kalimat pendek yang sederhana. Misalnya: Ayah pergi. Kakak belajar tadi. Kedua kalimat di atas adalah kalimat baku. Betul memang, ada syarat untuk memasukkan sebuah kalimat ke dalam kalimat baku. Syarat pertama, kalimat baku mengandung kata-kata baku. Kata baku dapat dilihat pada Kamus Besar Bahasa Indnesia. Hanya saja, kamus besar yang dilihat harus edisi terbaru. Sebab bisa jadi, sebuah kata pada kamus terdahulu baku, tetapi pada kamus terbaru sudah tidak lagi, terutama pada kata turunan (kata berimbuhan)