Postingan

Menampilkan postingan dengan label kalimat majemuk

Istilah Anak Kalimat dan Induk Kalimat

Adakah istilah anak kalimat dan induk kalimat dalam buku tata bahasa baku? Istilah anak kalimat dan induk kalimat itu terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia, bahkan sejak EYD. Namun, dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah itu, yang ada adalah klausa utama dan klausa subordinatif. Betul, baik disebut induk-anak kalimat maupun klausa utama-subordinatif tetap mengacu kepada pengertian yang sama. Mengapa EBI dan buku tata bahasa baku menggunakan dua i stilah yang berbeda? Klausa subordinatif bisa berupa klausa nominal, klausa adverbial, dan klausa relatif. Disebut klauda nominal, apabila klausa subordinatif itu menggantikan bagian kalimat yang diisi nomina, misalnya, menggantikan fungsi objek. Misalnya: Ibu mengatakan bahwa kakak mendapat hadiah. Bagian "bahwa kakak mendapat hadiah" adalah klausa subordinatif yang juga klausa nominal sebab itu menggantikan nomina.  Klausa subordinatif yang berfungsi sebagai keterangan disebut juga kla...

Jenis-jenis Klausa

Pernah dengar istilah klausa, bukan? Klausa mirip dengan kalimat sebab sama-sama memiliki subjek dan predikat. Bedanya adalah klausa tidak berintonasi final, artinya tidak diakhiri dengan tanda baca penanda akhir kalimat, seperti titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!). Pun, tidak mutlak diawali huruf kapital.

kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Kalimat tunggal dan kalimat majemuk adalah dua jenis kalimat (dari sekian banyak nama-nama kalimat) yang yang dibedakan berdasarkan jumlah klausa di dalamnya. Atau, dulu bukan klausa yang dipakai, melainkan pola kalimatnya atau jumlah S(ubjek) dan P(redikatnya)

GARA-GARA SUBJEK MELESAP, MANDOR MENCURI

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai sebuah kebakuan kalimat adalah pelesapan unsur pada anak kalimat. Jika kalimat terdiri atas dua klausa atau lebih, kalimat tersebut biasanya dikenal dengan sebutan kalimat majemuk. Dalam kalimat majemuk, dua buah klausa tadi bisa saja memiliki unsur yang sama. Misalnya kalimat: Sebab adik sakit, adik tidak pergi ke sekolah. Pada kalimat tersebut, klausa 1 adalah SEBAB ADIK SAKIT, sedangkan klausa 2 adalah ADIK TIDAK PERGI KE SEKOLAH. Kedua klausa tersebut memiliki subjek yang sama, yaitu ADIK. Sebab itu, pada kalimat tersebut harus terjadi pelesapan subjek, yakni penghilangan subjek (pada anak kalimat). Dengan demikian, kalimat itu menjadi "Sebab sakit, adik tidak pergi ke sekolah" Hanya saja soal lesap-melesapkan ini, sering orang tanpa sadar melakukan pelesapan yang tidak atau kurang tepat. Misalnya: Sebab sering mencuri, mandor memecat pegawai tersebut. Siapakah yang sering mencuri dalam kalimat tersebut? Coba perhatikan...