Postingan

Kalimat efektif: Contoh soal model SIMAK UI

Berikut ini adalah simulasi soal Seleksi Masuk Universitas Indonesia, yakni untuk soal kalimat efektif. Kalimat-kalimat di bawah ini merupakan kalimat tidak efektif, KECUALI... (A) Buku tebal karangan doktor terkenal itu sudah dibaca oleh saya dua hari lalu. (B) Jika kamu tidak datang, aku akan segera pulang sebab di sini aku sendiri saja.* (C) Persahabatan itu bagai kepompong yang mampu mengubah sesuatu menjadi indah. (D) Pembangunan waduk itu untuk menyejahterakan para petani di wilayah tersebut. (E) Sebab tidak sopan, kami pun menegur mereka di tempat biasa mereka berkumpul. JAWABAN: B Pada (A) terdapat kesalahan pemasifan, seharusnya bukan sudah dibaca oleh saya sebab ada kata ganti saya (kata ganti orang ke-1), yang tepat adalah sudah saya baca . Pada (C) kalimatnya tidak memiliki predikat, bagian bagai…indah merupakan keterangan. Pada (D) kaimat juga tidak berpredikat, bagian untuk…tersebut merupakan keterangan tujuan. Pada (E) terjadi kesalahan pelesapan sehingga yang tidak...

Kalimat Baku: Hindari Keambiguan

Ambigu, taksa, dan ambivalensi sebenarnya sama (saya sudah membahas pada posting yang lalu). Ambigu terjadi pada satuan bahasa sekurang-kurangnya frasa. Jadi, ambigu itu bisa terjadi pada klausa, kalimat, bahkan paragraf (jika tidak memiliki judul) Frasa topi raja yang besar bermakna ambigu. Dalam frasa itu, siapa atau apa yang besar? Apakah mengacu kepada raja ataukahh kepada topi? Dalam kelas, saya sering menyampaikan penyebab keambiguan sebuah frasa, dua di antaranya adalah pemakaian konjungsi yang dan penggunaan kata penggolong, seperti buah, ekor, orang, atau penyebut nama barang sebagai kata penggolong. Contoh keambiguan di atas adalah disebabkan pemakaian kata yang . Contoh penggunaan kata penggolong, misalnya, dalam kalimat "Ibu membeli tiga ekor sapi". Ekor-nya ataukah sapinya yang dibeli ibu? Menurut EYD, ketidakambiguan dapat dihindari dengan menggunakan tanda hubung (-). Frasa topi raja yang besar agar lebih jelas dapat diberi tanda hubung, seperti di bawah ini ...

Kalimat Baku: Struktur Baku

Tahun-tahun terakhir ini dalam soal ujian masuk ke PTN untuk mata pelajaran bahasa Indonesia selalu saja ada pertanyaan tentang kalimat baku. Menganalasis kebakuan sebuah kalimat tidaklah mudah sebab ada beberapa persyaratan yang harus dilihat. Salah satunya adalah melihat kebakuan dari sisi struktur. Demikian juga dalam kenyataannya di soal, kebakuan dari sisi struktur sangat dominan. Namun, jangan khawatir sebab analisis kebakuan struktur justru yang paling konkret dan mudah diurainya. Baku secara struktur berarti kalimat itu memiliki induk kalimat (klausa bebas) yang memiliki subjek dan predikat (unsur inti kalimat). Unsur yang sering mengecoh kebakuan adalah Keterangan, yang dicirikan dengan diawali preposisi dan konjungsi subordinatif. Ini daftar preposisi: di, ke, dari, dalam, pada, oleh, bagi, seperti, untuk.... Ini daftar konjungsi subordinatif: yang, sebab, karena, sehingga, agar, supaya, walaupun, ketika, saat, yang,...(dan beberapa lagi) INGAT! Setiap kata atau frasa yang di...

Jika ada saya atau kamu, jangan pakai di-!

Kita tahu bahwa bentuk kalimat itu macam-macam. Sejak di sekolah dasar kita sudah diajari tentang kalimat aktif dan kalimat pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan pekerjaan, sedangkan kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai atau menjadi sasaran suatu pekerjaan. Tidak semua kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif. Syarat sebuah kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif adalah berpredikat kata kerja transitif (berawalan me- dan diikuti objek). Misalnya: (1) Kakak mengetik naskah cerpen. Kalimat ini berpredikat MENGETIK yang merupakan kata kerja transitif sebab berawalan me- dan diikuti objek (naskah cerpen). Jadi, kalimat (1) bisa dipasifkan. (2) Adik bermain sepak bola. Kalimat (2) berpredikat BERMAIN yang bukan kata kerja transitif, awalannya ber- dan tidak SEPAK BOLA dalam kalimat itu berfungsi sebagai pelengkap. jadi, kalimat (2) tidak dapat dipasifkan.. Kalimat (1) di atas jika dipasifkan tinggal diubah objek menjadi subjek, kemudian...

Kapankah sebuah kata dipetik?

Seorang murid saya bertanya kepada saya, "Kak, kapankah sebuah kata dapat diberi tanda petik?". Dalam EYD, diatur tentang penggunaan tanda petik ("..."). Tanda baca yang berada di atas selain tanda petik adalah tanda petik tunggal ('...') dan apostrof ('). Sesuai dengan judul di atas, pada tulisan ini saya akan fokus dulu pada penjelasan tentang kapan atau bilamana sebuah kata dapat diberi tanda petik. dalam ejaan kita, tanda petik ("...")--biasanya dikenal juga dengan tanda kutip--dipakai dalam tiga kondisi. Pertama, dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Contoh: Padal 36 UUD 1945 menyatakan, "bahasa negara adalah bahasa Indonesia." Ibu berkata, "Paman berangkat besok pagi." Kedua, dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Contoh: Sajak "Pahlawanku" terdapat pada halaman 5 buku itu. Saya sedang membaca ...

GARA-GARA SUBJEK MELESAP, MANDOR MENCURI

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai sebuah kebakuan kalimat adalah pelesapan unsur pada anak kalimat. Jika kalimat terdiri atas dua klausa atau lebih, kalimat tersebut biasanya dikenal dengan sebutan kalimat majemuk. Dalam kalimat majemuk, dua buah klausa tadi bisa saja memiliki unsur yang sama. Misalnya kalimat: Sebab adik sakit, adik tidak pergi ke sekolah. Pada kalimat tersebut, klausa 1 adalah SEBAB ADIK SAKIT, sedangkan klausa 2 adalah ADIK TIDAK PERGI KE SEKOLAH. Kedua klausa tersebut memiliki subjek yang sama, yaitu ADIK. Sebab itu, pada kalimat tersebut harus terjadi pelesapan subjek, yakni penghilangan subjek (pada anak kalimat). Dengan demikian, kalimat itu menjadi "Sebab sakit, adik tidak pergi ke sekolah" Hanya saja soal lesap-melesapkan ini, sering orang tanpa sadar melakukan pelesapan yang tidak atau kurang tepat. Misalnya: Sebab sering mencuri, mandor memecat pegawai tersebut. Siapakah yang sering mencuri dalam kalimat tersebut? Coba perhatikan...

Pilih Perempuan atau Wanita

Sebuah kata, karena berbagai sebab, sering mengalami pergeseran makna. Pergeseran makna atau perubahan makna itu, misalnya, dapat pula menyangkut kesan terhadap makna kata itu. Kesan yang ditangkap masyarakat terhadap kata tersebut. Memang sulit menentukannya sebab tidak ada ukuran pasti. Hanya common sense kita sudah dapat merasakan kesan yang akan diterima apakah negatif atau positif. Dalam istilah teknis linguistik, kesan negatif dikenal sebagai peyoratif, sedangkan kesan positif dikenal sebagai amelioratif. Sebenarnya, ada satu lagi, yaitu kesan netral alias denotatif. Contoh kata babu berkesan negatif kata pembantu berkesan netral kata pramuwisma berkesan positif Mana yang lebih baik perempuan atau wanita? Di sekolah-sekolah diajarkan bahwa kata perempuan berkesan negatif dibandingkan dengan kata wanita yang berkesan positif. Itu diajarkan sejak zaman orde baru hingga tubangnya rezin tersebut. Kata wanita berkesan positif (sekurang-kurangnya saat itu) sebab kata tersebut sering di...