Senin, 01 April 2013

Jenis-jenis Klausa

Pernah dengar istilah klausa, bukan?
Klausa mirip dengan kalimat sebab sama-sama memiliki subjek dan predikat. Bedanya adalah klausa tidak berintonasi final, artinya tidak diakhiri dengan tanda baca penanda akhir kalimat, seperti titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!). Pun, tidak mutlak diawali huruf kapital.


Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) ibu pergi ke pasar
Contoh (1) di atas bukan kalimat, melainkan sebuah klausa.
Jika contoh (1) di atas hendak dijadikan kalimat, kita harus mengawali struktur itu dengan huruf kapital dan memberi tanda baca akhir, seperti titik (.), sehingga menjadi bentuk (2) di bawah ini.
(2) Ibu pergi ke pasar.

Ada dua jenis klausa, yaitu klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang bisa berdiri sendiri, seperti contoh (1) di atas. Sebaliknya, klausa terikat adalah klausa yang tidak bisa berdiri sendiri, diawali konjungsi subordinatif (misalnya: sebab, ketika, untuk, jika, dan lain-lain), dan jika dijadikan kalimat, tampak seperti ada informasi yang hilang.

Perhatikan contoh di bawah ini.

(3) saat musim durian tiba di kotaku
(4) maka mereka pun mengajukan protes kepada panitia penyelenggara

Contoh (3) dan (4) merupakan klausa terikat sebab tidak bisa berdiri sendiri, diawali konjungs subordinatif, dan tidak bisa dijadikan kalimat.

Bila dikaitkan dengan kalimat majemuk bertingkat, klausa terikat disebut juga klausa sematan atau anak kalimat, sedangkan klausa bebasnya bisa disebut juga klausa utama atau induk kalimat.

Perhatikan kalimat majemuk bertingkat di bawah ini.

(5) Sebab terlambat sampai di sana, mereka hanya bisa menyaksikan pertunjukkan itu dari luar.
Bagian sebab terlambat sampai di sana merupakan klausa sematan=anak kalimat, sedangkan mereka hanya bisa menyaksikan pertunjukkan itu dari luar adalah klausa utamanya atau induk kalimatnya.

1 komentar: